Mission Trip 28 Juni – 7 Juli 2011 – Day Four

BALE ENDAH, Jumat, 1 Juli 2011

Keceriaan Anak-anak di Bale Endah

Pukul 05.00 WIB kami berangkat dari Gunung Tilu untuk bertolak ke persekutuan satelit lainnya yakni Bale Endah dengan menggunakan angkot carteran. Perjalanan diperkirakan memakan waktu dua jam perjalanan. Kami berangkat sangat pagi agar tidak terjebak kemcetan Bandung. Namun perjalanan tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Tiba-tiba ketika melintas perempatan, ada sebuah mobil yang berjalan dengan oleng, dan menabrak sisi kanan angkot. Tidak hanya itu, ketika sopir memaksakan untuk berjalan, ban mobil terkikis dan akhirnya kempes. Mobil angkot pun berhenti selama tiga puluh menit. Puji Tuhan kami tidak mengalami luka apa-apa. Kami percaya Roh Tuhan jauh lebih kuat daripada segala roh yang ada. Firman Tuhan kami amini bahwa segala kuasa tunduk dalam nama-Nya, dan kami amini itu kami lakukan senantiasa.

Sampai di Bale Endah pukul 08.30 WIB, kami disambut oleh gembala setempat yakni Mbak Nining. Setelah itu, kami diberi penjelasan kondisi pelayananan Bale Endah dan apa yang harus kami kerjakan selama ada di Bale Endah. Total jemaat Satelit Bale Endah sekitar 40 orang, sudah termasuk dengan anak-anak. Project misi kami ini ialah lebih untuk melayani anak-anak pelajar dari SD, SMP, hingga SMA. Sebuah angan-angan Mbak Nining agar anak-anak ini mendapat pengalamann yang berharga karena SDM Bale Endah untuk melayani anak-anak memang kurang dan sangat terbatas. Kebanyakan jemaat keluarga di sini ialah keluarga yang bekerja, sehingga waktu untuk anak tidak terlalu banyak, dan tidak sedikit yang tidak terperhatikan oleh orang tuanya, terutama sosok ayah.

memulai pengajaran Bahasa Inggris

Pukul 12.00-16.00 WIB kami mengadakan kursus bahasa Inggris. Ada 9 anak kristen yang saat itu kami ajar bahas Inggris. Kami bagi-bagi berdasarkan kelas dan kemamapuan tiap anak. Puji Tuhan kami melihat antusiasm dari anak-anak tersebut. Jauh lebih daripada itu, kami mengingat Firman Tuhan ketika Yesus berkata kepada murid-muridNya untuk mecontoh anak-anak dalam menyambut Dia. Kami rasakan betul kegairahan dan kepolosan kumpulan anak-anak ini. Mereka mudah diajar Firman Tuhan dan menyambut Tuhan dengan polos.

Setelah kursus tersebut, team dibagi-bagi untuk mengantar anak-anak pulang, sekaligus untuk berkunjung ke rumah orang tua masing-masing. Dalam kunjungan tersebut, kami sekaligus berbagi Firman tentang bagaimana menjadi orang tua yang sesuai dengan Firman Tuhan dalam mendidik anak.

Pun kami juga memotivasi anak-anak tersebut secara langsusng di hapadan orang tuaanya untuk rajin belajar, memiliki mimpi besar, dan taat dalam jalan Tuhan. Ada banyak masukan yang kami dapat setelah kami bertemu dengan orang tua anak-anak tersebut. Berbagai ragam kebiasaaan rohani dari anak-anak tersebut, ada yang rajin saat teduh, ada yang tak terbiasa saat teduh hingga jarang ke gereja. Saya ceritakan salah satu anak yakni Agil. Kedua orangtuanya berasal dari kalangan yang tidak mampu. Ayahnya bekerja di perusahaan garmen dan jarang memperhatikan Agil. Bila Agil tidak terlalu berprestasi di sekolah, ayahnya selalu menunjukkan sikap yang tidak enak terhadap Agil. Apalagi ayahnya kelihatan tidak sungguh-sungguh dalam mengikut Tuhan, hanya beroientasi cari uang saja dalam hidupnya. Akibatnya saya merasakan dengan jelas bahwa Agil kehiangan tidak memiliki sosok seorang bapa. Ketika ayahnya tidak ada, dia sangat lengket dan mau saya ajarin sesuatu. Namun ketika ayahnya ada, dia menjadi soisok yang diam dan sering menunduk. Begitu juga dengan Marco, ayahnya hanya pulang ke rumah pada saat weekend saja.

Kami menyelesaikan kunjungan sampai pukul 08.00 WIB, dilanjutkan dengan pekerjaan sehari-hari, dan doa bersama.

Advertisements
%d bloggers like this: