Mission Trip 28 Juni – 7 Juli 2011 – Day Seven

BALE ENDAH, Senin 4 Juli 2011

Pada hari Senin, 4 Juli 2011, team misi berangkat menuju ke Satelit GKKD Banjaran. Perjalanan dimulai pukul 09.45 dengan menggunakan angkot. Team misi tiba di lokasi kunjungan pada saat jam makan siang. Perjalanan memakan waktu kira-kira 1 jam. Dalam perjalanan, beberapa anggota team misi mengobrol dengan Mbak Nining (Gembala Satelit GKKD Baleendah) mengenai suka duka pelayanan di daerah-daerah masyarakat. Dari yang ditangkap oleh salah satu anggota team, pelayanan di masyarakat memerlukan harga dan komitmen yang lebih besar dibandingkan pelayanan mahasiswa. Jika di kampus, data-data orang yang akan dijangkau dapat diperoleh dengan mudah, sedangkan dalam pelayanan masyarakat, informasi diperoleh dari mulut ke mulut, tidak pasti, dan terkadang harus melakukan kunjungan ke tempat yang jauh. Kunjungan yang dilakukan pun terkadang tidak terduga. Mbak Nining bercerita mengenai kunjungan beliau bersama Mbak Yus ke Banjaran ke rumah Pak Wari. Mereka pergi kesana dengan menggunakan mobil sedan Mbak Yus yang sudah lama. Ketika mereka sampai, ternyata Pak Wari sedang sakit dan harus segera dilarikan ke rumah sakit. Hal ini sangat tidak terduga. Pak Wari segera diantar ke rumah sakit dengan menggunakan mobil sedan Mbak Yus.

Hari ini, team mengunjungi kediaman Pak Wari di Banjaran. Jadi GKKD Satelit Banjaran ini sebenarnya tidak mempunyai gedung gereja, tetapi ibadah dilaksanakan di rumah secara kontekstual. Satelit ini digembalai oleh Bapak Suhanda dan Bapak Sahata. Katanya, Bang Robin juga pernah berkunjung ke tempat ini. Rumah Pak Wari terletak di lingkungan pedesaan yang jalannya masih berupa tanah dan banyak kebun.Pak Wari asli berasal dari daerah Banjaran. Pak Wari memiliki penyakit darah tinggi, sehingga tidak terlalu diperbolehkan untuk melakukan hal-hal yang sulit, seperti memanjat pohon. Pada waktu kunjungan, orang-orang yang kami temui adalah Bu Wari, Bu Silya, dan suaminya, saudara-saudaranya. Selain orang dewasa, juga ada anak-anak, yaitu Misel, Febi, Dina, Dini, dan Siti.

Bu Silya adalah orang Banjaran asli, lahir di tempat tersebut. Beliau memiliki suami seorang Jawa yang beragama Katolik. Bu Silya memiliki latar belakang Muslim. Setelah selesai makan, team misi mengobrol bersama-sama dengan keluarga besar Pak Wari. Kemudian kami bersama-sama menyanyikan lagu pujian dalam Bahasa Sunda. Ternyata nada lagu pujiannya pun disesuaikan dengan nada pentatonis dalam Bahasa Sunda. Lalu kami sama-sama menyanyikan lagu-lagu tersebut diajarkan oleh Bu Wari.

Dina, Dini, dan Siti adalah anak dari orang yang baru lahir baru. Jadi mereka belum pernah merasakan sekolah minggu.Team misi pun dibagi-bagi untuk melakukan tugas-tugas seperti mengajar sekolah minggu, memetik buah, dan lain-lain. Kegiatan berlangsung sampai kira-kira pukul 16.00.

Pada saat mengajar sekolah minggu, Roh Kudus setia memberikan hikmat kepada team untuk mengajar sekolah minggu. Untuk mencairkan suasana, dilakukan perkenalan terlebih dahulu secara interaktif.Setelah itu, team misi mengajarkan beberapa lagu sekolah minggu kepada anak-anak, seperti Happy Ya Ya Ya, Jalan Serta Yesus, dan Burung Pipit Bunga Bakung dan bermain games seperti ular naga panjangnya dengan memakai lagu Jalan Serta Serta Yesus.

Untuk cerita Firman Tuhan, team misi membagikan kisah penciptaan dunia oleh Tuhan Yesus dari Kejadian 1.Team menceritakan mengenai penciptaan pada dari hari pertama sampai hari keenam. Setiap objek yang diciptakan, anak-anak diminta menggambarkan objek-objek tersebut. Cerita disampaikan sambil makan cemilan yang ada.Anak-anak pun dituntun untuk memetik bunga dari lingkungan sekitar mereka dan menyanyikan Burung Pipit Bunga Bakung.Setelah semua kegiatan selesai, team misi, Mbak Nining dan keluarga satelit berfoto bersama. Team misi dan Mbak Nining pun pulang ke Baleendah. Sungguh suatu momen dan sukacita yang luar biasa melihat satu keluarga dari suku terabaikan terbesar di dunia, yaitu suku Sunda, dapat diselamatkan.

Advertisements
%d bloggers like this: