Mission Trip 28 Juni – 7 Juli 2011 – Day Three

GUNUNG TILU, Kamis 30 Juni 2011

Hari terakhir tim misi berada di Gunung Tilu. Kami percaya ada suatu hal yang baik yang Tuhan sediakan untuk kami kerjakan hari ini dan Tuhan yang dapat kami rencanakan untuk dikerjakan setelah meninggalkan Gunung Tilu.

Bangun pukul 4.30, setiap anggota tim kemudian bersaat teduh selama sejam dilanjutkan dengan doa bersama. Firman Tuhan dibagikan oleh Alit Dewanto dari Ibrani 12:4-7 mengenai iman dan perbuatan. Alit mengajak masing-masing dari kita untuk bertindak seradikal doa kita dan memiliki hati yang polos untuk mendengar pengajaran firman. Setelah itu tim berdoa secara korporat untuk meminta pertolongan Tuhan untuk setiap hal yang dikerjakan.

Sebelum beraktifitas misi, tim makan, mencuci piring, mencuci baju, membersihkan wc, menyapu halaman dan mandi. Tim dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengerjakan misi dan mulai dari pukul 09.00.

Kunjungan kepada cucu Bu Aat dilakukan oleh Royanto, Marsel dan Juli. Pendekatan dilakukan untuk berbagi kasih dengan anak-anak. Puji Tuhan, cucu Ibu Aat sangat menyukai kunjungan tersebut dan ingin untuk bertemu kembali.

Tim pertama, yang terdiri dari Arnold dan Tesa bertugas membantu Pak Johan untuk berkebun. Melewati pedesaan, ada dua lahan Pak Johan yang terpisah. Lahan pertama kecil dan ditanami oleh tanaman cabai. Lahan yang satunya berukuran lebih besar dan ditanamin beberapa macam jenis tumbuhan, dengan tanaman utama adalah pohon kakao dan pohon cabai. Di ladang ini kami mencangkul, membersihkan tanaman serta memupuk tanaman. Karena hujan, maka hanya sebagian ladang yang selesai dikerjakan.

Tanaman Cabai yang sudah Dibersihkan dan Diberi Pupuk

Tim kedua, yang terdiri dari Poltak, Franklin, Esther dan Tanti bertugas membantu Pak Yaya mengisi polybag dengan tanah berpupuk kandang. Namun karena hujan dan pekerjaan dikerjakan terlalu sore, pekerjaan ini hanya dilakukan sebentar dan dilanjutkan dengan mengarit rumput dan kemudian memberi makan kambing makanan berupa rumput yang telah dikarit sebelumnya. Tim ini selesai dan sampai ke base camp.

Tim ketiga yang terdiri dari Humisar, Alit dan Marsel bertugas membantu Pak Dodo untuk memecah batu dan membentuk jalan batu di halaman Pak Dodo. Pekerjaan ini berlangsung dengan dibantu oleh tim yang sudah selesai mengerjakan tugasnya.

memecahkan batu utk pembuatan jalan

Seluruh tim semuanya berkumpul bersama pada pukul 17.15 dan selagi menunggu pukul 18.00 untuk evaluasi, beberapa mengerjakan pembuatan modul, mengajar, filing, pembuatan laporan, memasak. Selain itu, Josephine dan Tesa melakukan survey tanah. Di daerah gunung Tilu, tidak jauh dari rumah Pak Johan, terdapat lahan berupa lembah yang sangat luas dan prospektif. Lahan ini seluas sekitar 2880 m2. Harga yang diberikan untuk lahan yang sangat luas ini adalah 40 juta rupiah. Setelah berbincang dengan Pak Johan dan salah satu penduduk, lahan ini dialiri oleh sebuah sungai. Lahan ini juga memiliki akses yang dekat dengan jalan raya. Lahan ini sangat cocok untuk ditanami tanaman kayu, lada ataupun tanaman sayuran. Selain itu, terdapat kemungkinan untuk mendirikan pondok sebagai tempat persinggahan.

jalan batu yang sudah selesai dibuat

Setelah evaluasi, tim makan malam. Direncanakan 2 tim untuk melakukan kunjungan kepada Kadus dan satu keluarga. Namun, dikarenakan tim mendapatkan arahan, cerita pengalaman dan impartasi hati yang sangat berharga dari pak  Johan; tim terlalu malam untuk dapat bergerak. Sehingga setelah makan malam dan pengarahan dari Pak Johan, maka acara dilanjutkan dengan mendengarkan kesaksian dari Ibu Aat dan Pak Yaya.

Ibu Aat sendiri adalah warga asli desa tersebut yang awalnya sangat menolak kedatangan keluarga Pak Johan yang notabene adalah Kristiani. Namun, seiring dengan penjangkauan yang dilakukan oleh Pak Dodo (adik dari Ibu Aat), pintu penginjilan mulai terbuka. Pak Dodo sendiri sudah lahir baru terlebih dahulu oleh Pak Johan. Ibu Aat yang penasaran kemudian pergi ke gereja dan singkat cerita, bertobat, lahir baru dan dibabtis. Banyak tantangan yang Ibu Aat alami, namun puji Tuhan, iman tangguh yang dimiliki dan peneguhan dari keluarga rohani tetap menguatkan Ibu Aat dalam iman.

Pak Yaya, adalah seorang Sunda, yang lahir baru ketika Pak Johan pelayanan di Sumba. Seiring dengan bertambahnya warga yang lahir baru dan memenui rumah Pak Yaya untuk beribadah, maka ada rasa tak senang dari beberapa pihak. Asutan kepada warga untuk mengusir Pak Yaya dilancarkan sehingga Pak Yaya diusir dan terpaksa meninggalkan rumah dan harta benda  yang sudah pernah dimiliki sebelumnya dan pindah ke gunung Tilu. Dengan rumah yang sederhana dan pelayanan yang sederhana dan polos, injil mulai dikabarkan ke warga. Iman yang luar biasa.

Malam semakin larut dan tim kemudian sharing dan perpisahan dan saling bertukar berkat engan keluarga Pak Yaya dan Ibu Aat. Dilanjutkan dengan briefing dan doa malam, tim mengakhiri kegiatan dan beristirahat pukul 23.30.

Sangat kagum dengan pelajaran yang Tuhan limpahkan kepada tim kami. Kami mengerti apa makna sebenarnya dari membayar harga. Pelajaran bagaimana meninggalkan dan menanggalkan segala sesuatu dan memulai hidup yang baru dari nol, seperti yang dialami oleh Pak Yaya. Bagaimana memutuskan hal terbesar  dalam hidup dan menyambut tantangan di tengah komunitas seperti yang dialami Ibu Aat. Arti yang sangat dalam dari iman. Bukti yang sangat tulus dari perbuatan iman. Tekad besar pun sampai ke hati kami, seperti yang disampaikan Pak Johan, “Saya hidup untuk melayani Tuhan dan saya siap jikalaupun harus mati di Gunung Tilu bagi Tuhan.”


Advertisements
%d bloggers like this: