Mission Trip 28 Juni – 7 Juli 2011 – Day Two

GUNUNG TILU, Rabu 29 Juni 2011

Suku Sunda merupakan salah satu suku terbesar di dunia yang tergolong unreached people group. Penginjilan kontekstual dirasa merupakan cara penjangkauan yang paling tepat untuk menjangkau suku ini. Penginjilan kontekstual berarti membagikan hidup, menjalin hubungan, dan menabur kebaikan kepada para warga Sunda.

Konsep itulah yang mendasari pelayanan kami dalam lingkungan Sunda Gunung Tilu ini. Pada hari kedua, kami mencoba membangun hubungan terutama jemaat yang sudah tertanam di gereja Gunung Tilu ini. Seperti yang sudah diketahui ada dua keluarga besar yang tertanam di sini, ditambah satu ibu yang bernama Bu Aad. Pada hari kedua ini, team dibagi menjadi tiga team kecil. Team pertama bertugas membantu keluarga Pak Dodo, team kedua pergi ke keluarga Pak Yaya, dan terakhir ke Bu Aad.

Sebelum dibagi-bagi, kami bersepakat dalam doa bersama hingga pukul 07.00 WIB, kemudian melakukan secara bergantian melakukan tugas sehari-hari seperti memasak, mencuci piring, WC, dan membersihkan rumah. Puji Tuhan team mendapat suntikan tenaga tambahan yang menyusul, yakni Tesa Kaban, Poltak Simarmata, Tanti Agustin, dan Humisar Sinaga. Namun sayang, satu anggota harus pulang sementara ke Bandung karena urusan akademik, yakni Peter sehingga total personel sebanyak 12 orang.

Kemudian team melakukan kunjungan bersama ke rumah Pak Dodo. Secara umum, kami ingin mencitrakan diri sebagai ‘orang-orang baru yang ramah dan bisa menyesuaikan diri’. Setelah itu, pembagian team dimulai. Royanto, Arnold, Alit, dan Josephine membantu pekerjaan Pak Dodo di kebun beliau, serta pembangunan jalan. Juli serta Marsel ke rumah Bu Aad. Franklin, Peter, dan Esther membantu pekerjaan Pak Yaya.

Pak Dodo dan Istri

Di tengah keterbatasan Pak Dodo dan Pak Yaya, mereka tetap tekun untuk mengerjakan pekerjaan yang menjadi mata pencaharian mereka. Terlebih dari kuramgnya nominal penghasilan, mereka tetap tekun menegrjakan Firman Tuhan.

Banyak sekali potensi yang bisa dikembangkan melalui perkebunan, yakni jagung, pohon jabon, pohon albasia, dan ketela pohon. Namun komoditas tersebut belum terlalu bisa efektif dan masih dalam tahap pilot project. Pohon jabon dan pohon albasia merupakan komoditas kayu untuk membangun rumah dan bangunan-bangunan kayu lainnya. Pohon ini, meskipun kulaitasnya di bawah kayu  jati, namun jangka waktunya cepat dipanen, hanya keitar 4-5 tahun, dibandingkan dengan kayu jati yang puluhan tahun.

Sangat dibutuhkan teknologi untuk menumbuhkan tanaman-tanaman ini. Dan mereka sangat berharap bahwa mahasiswa-mahasiswi dapat mencarikan solusi teknologi yang terbaik.

Daun Tanaman Albasia, Salah Satu Tanaman yang Potensial

Setelah makan siang, beberapa personal mendedikasikan diri untuk mengajar anak-anak di sini. Arnold mengajar Ogi tentang pemrograman Java, karena kebetulan juga Ogi merupakan mahasiswa kejuruan Informatika. Josephine mengajari Dora dan Lamria bahasa inggris, sedangkan Esther mengajar membaca dan komunikasi bahasa Inggris kepada Magdalena. Melihat anak-anak ini, belas kasihan kami sangat terasa untuk mereka. Ogi sangat antusias untuk belajar. Banyak sekali keterbatasan dana, akomodasi yang dia alami, namun tak mengurungkan niatnya untuk mempelajari program ini untuk meningkatkan kapasitasnya.

Puji Tuhan kami melayani banyak persoalan pribadi serta persoalan antar jemaat. Kami diarahkan Tuhan untuk membagikan keutuhan dan kekompakan jemaat, serta melakukan rekonsiliasi antar jemaat, serta antara jemaat dan gembala. Kami mengucap syukur kepada Tuhan atas komsel tersebut, karena beberapa jemaat menyatakan ucapan syukur dan terima kasih atas komsel tersebut. Satu hal yang sangat saya pelajari dari para jemaat ialah ‘kepolosan’ mereka dalam melakukan Firman Tuhan.

Melayani Pemulihan Jemaat Gn Tilu

Banyak sekali kesaksian hidup yang tak sedikit mempertaruhkan nyawa mereka, namun mereka tetap kuat bersaksi bahwa Tuhan Yesus ialah juru selamat.

Terakhir kami berdoa bersama dan tidur pukul 23.00 WIB.

Advertisements
%d bloggers like this: