Mission Trip 28 Juni – 7 Juli 2011 – Profil Pak Yaya

GUNUNG TILU,

Jemaat – jemaat yang ada di Gunung Tilu ini benar –benar mengalami indahnya kasih Tuhan atas hidup mereka. Saya berkunjung ke rumah sederhananya pak Yaya. Pak Yaya (52 thn) ini adalah orang sunda asli. Beliau dan seluruh keluarganya mengalami Kristus ketika di Subang. Mertua beliau, Pak Dodo (68 thn) adalah yang memberitakan Injil dan bersaksi kepada pak Yaya. Pak Dodo ini adalah salah sati jemaat yang digembalakan pak Johan, gembala GKKD Sumedang. Kisah pertobatan pak Yaya adalah satu hal yang ajaib. Ibu Apong (47 thn), istri beliau yang lebih dahulu mengikut Kristus dengan tekun bersaksi kepada pak Yaya, bersama – sama dengan pak Dodo. Di dalam hati pak Yaya sejak dulu sebenarnya ingin menjadi orang yang baik. Namun sekuat apapun dia berusaha, dia tidak dapat. Pernah pak Yaya banyak melakukan pekerjaan baik, namun di masa itu hatinya tidak pernah puas. Dengan polos dia berkata, saya merasa saya tetap orang berdosa. Saya merasa ada hukuman di depan saya kelak. Ini membuat pak Yaya depresi dan akhirnya jatuh sakit. Kejiwaan pak Yaya terganggu.

Ibu Apong tetap teguh pada imannya, berdoa kepada Bapa supaya pak yaya mengalai kesembuhan. Segala usaha untuk menyembuhkan kejiwaan pak Yaya sudah dilakukan termasuk keluarga besar yang membawa ke dukun. Sampai akhirnya suatu hari, pak Dodo berdoa di pekarangan rumah. Tidak mimpi dan tidak berkhayal, pada saat yang sama ibu Apong melihat di depannya ada sesosok orang berjanggut putih berdiri di hadapannya. Orang ini berkata : “jangan takut, Aku ini Tuhanmu.” Dengan polosnya ibu yang sederhana ini percaya lalu menceritakannya kepada pak Dodo. Pak Dodo kontan berkata itulah Tuhan Yesus yang dia sembah.Ibu Apong yang takjub ini selanjutnya terus bersaksi kepada pak Yaya sampai akhirnya mujizat kesembuhan terjadi dan pak Yaya memutuskan untuk menjadi pengikut Kristus. Pak Johan juga turut pergi pulang Sumedang – Subang untuk melayani keluarga pak Yaya. Pak Johanlah yang membabtis keluarga ini masuk ke dalam hidup baru.

Keluarga Pak Yaya

Pak Yaya, dengan senyuman yang membuat hati saya penuh damai sejahtera, bersaksi bahwa sejak  dia menerima Yesus, hatinya benar-benar penuh. Penuh dengan kekudusan. Pak Yaya berkata ada kekuatan yang membuat dia mampu hidup dalam kebenaran dan lebih daripada itu, dia gembira karena dia telah diselamatkan.

Ibu Apong juga dengan tekun bersaksi kepada anak-anaknya yang masih muslim hingga akhirnya percaya kepada Yesus. Namun tak lama kemudian, keluarga besar akhirnya mengetahui bahwa keluarga Pak Yaya telah menjadi pengikut Yesus. Tantangan mulai terjadi karena keluarganya mulai diejek, diremehkan, bahkan diancam. Anak – anak pak Yaya pun mulai mendapat perlakuan yang tidak baik. Suatu hari pak Yaya merenungkan hidupnya dan mengingat kembali Firman Tuhan bahwa dalam mengikut Yesus pasti ada tantangan dan ada harga yang harus dibayar. Dia merasa keadaan ini tidak baik untuk pertumbuhan iman keluarganya. Bahkan orang –orang fanatik mulai memprovokasi seluruh kampung untuk mengusir pak Yaya. Sampai – sampai dibuat surat pernyataan atas nama warga dan ditandatangani. Di sisi lain juga warga yang pro dengan pak Yaya karena bapak ini terkenal santun dan baik di kampung. Namun karena memikirkan pertumbuhan iman istri dan anak-anaknya, pak Yaya mengambil keputusan untuk meninggalkan rumahnya yang sudah mapan, sawahnya yang sangat menguntungkan dan segala kenyamanan hidup yang dia sudah alami. Keluraga ini pindah ke gunung Tilu. Bergabung bersama jemaat di tempat ini. Begitulah awalnya pertobatan yang dialami pak Yaya dan keluarga.

Ibu Apong juga bercerita suatu kali cucunya yang baru 1 tahun bersepeda di pekarangan rumahnya. Anak ini terjatuh ke jurang sedalam hampir 10 meter. Namun ajaib sekali anak ini tidak mengalami luka sedikitpun. Ibu Apong takjub kepada perlindungan Tuhan atas keluarganya. Beberapa warga sempat melihat kejadian ini dan ibu Apong percaya bahwa ini menjadi suatu kesaksian yang luar biasa bagi warga tentang Yesus yang ajaib. Ada beberapa mujizat lainnya dalam keluarga ini di mana penyertaan Tuhan yang ajaib yang meluputkan anak – anak pak Yaya dari celaka bahkan kematian didemonstrasikan kepada jemaat dan warga sekitar.

Pak Yaya ini sangat bersyukur menjadi Kristen. Dia tekun dan ulet sekali bersaksi kepada setiap orang yang ditemuinya, terutama orang sunda yang dikasihinya. Dia berdagang kasur keliling, dan pada setiap transaksi, dia bersaksi. Dalam usaha ladang dan ternaknya pun dia rindu lebih banyak lagi interaksi dengan warga kampung dan bersaksi tentang Yesus.

Banyak tantangan yang keluarga ini alami dalam mengikut Kristus. Tidak jarang juga karena beratnya tantangan lingkungan di tanah sunda ini, beliau menjadi lemah dan hampir – hampir meninggalkan Yesus. Pak Johan melihat bahwa orang ini adalah alat Tuhan yang luar biasa untuk menginjili orang-orang sunda dan juga menjadi buruan iblis.Namun pak Yaya, dalam anugrah Tuhan dan dalam penggembalaan pak Johan tetap teguh pada imannya.

Ulasan kehidupan keseharian dari Bapak Yaya bisa tercermin dari gambar-gambar yang terlampir di samping ini Sebagai gambaran, Bapak Yaya bermata pencaharian sebagai penjual ranjang keliling selain itu beliau juga mempunyai sebidang tanah seluas 200 m2 yang digunakan sebagai peternakan kambing (berjumlah 5 ekor), angsa (3 ekor), kelinci (8 ekor), dan ayam. Selain itu sebidang tanah tersebut juga digunakan sebagai perkebunan jabon, cabai, kacang panjang, albacia dan lain-lain. Kebun tempat Pak Yaya bercocok tanam

belum tertata dengan baik, sebagai contoh : cabai, jabon dan albacia belum dikelompokan dengan baik sehingga perlu sekali untuk menata ulang posisi dari perkebunan Pak Yaya.

kondisi rumah pak yaya yang akan diperbaiki

Sampai saat ini Pak yaya masih memiliki kerinduan yang belum tercapai, yaitu pembangunan rumahnya. Padahal sewaktu belum percaya kepada Tuhan Pak Yaya tinggal di rumah yang termasuk mewah di Subang, namun karena tidak mau menyangkal iman kekristenan, dia lebih memilih untuk keluar dari desa Subang dan tinggal di gunung Tilu, dengan kondisi rumah yang sangat sederhana. Pak Yaya merindukan kaum keluarganya di Subang dan warga – warga kampungnya juga bisa “ngarariung” di rumahnya. Dia ingin menyaksikan bahwa dengan rumah barunya ini, orang – orang ini melihat bahwa sekalipun dia tinggalkan kemapanannya di Subang, Tuhan memberkati kehidupannya di tanah yang baru. Bapak Yaya percaya kesaksian ini akan memuliakan Kristus di keluarga besarnya dan warga kampungnya hingga pada akhirnya banyak yang dimenangkan. Amin!

kondisi lantai rumah pak yaya

Di samping ini adalah gambaran rumah keluarga pak Yaya sekarang. Namun karena kurangnya dana dan bahan kerinduan pak Yaya masi belum terwujud. Adapun bahan yang masih tersedia adalah:

  • 6000 bata
  • 10 sak semen
  • Batu padas untuk pondasi
  • 2  truk pasir
  • Kusein pintu dan jendela

Sementara bahan yang masih dubutuhkan adalah

  • 5000 bata
  • 20 sak Semen
  • 2 truk pasir
  • Paku, Kayu bahan-bahan pembanguna dll
  • Biaya karyawan bangunan

Untuk membantu membangun rumah pak Yaya, langkah pertama yang bisa kami lakukan adalah membuat design rumah dari rumah pak Yaya sesuai spesifikasi yang seliau ajukan. Adapun spesifikasi rumah pak Yaya yaitu panjang 10m dan lebar 5,5 meter dengan 4 kamar tidur, 1 kamar mandi dan 1 dapur ( terpisah dari rumah utama

Sangat diharapkan peran dan bantuan dari mahasiswa dan alumni untuk menolong rekan-rekan kita yang berada di front lineini, karena yang menjadi pergumulan mereka tidak hanya keuangan, harga diri, masa depan melainkan juga nyawa mereka sendiri.

Advertisements
%d bloggers like this: