Berhati-hati dengan perkataan

Josephine Siahaan
Josephine Siahaan

Seringkali perkataan dianggap sepele oleh kita yang mengakui diri sebagai murid Kristus. Dalam obrolan dengan teman, umumnya perkataan kita lebih lugas dan bebas. Tidak jarang juga obrolan yang lugas itu berujung pada sakit hati atau perselisihan. Mungkin kita (termasuk saya ) pernah berdalih dengan berkata, “Ah, itu kan cuma bercanda, kok dianggap serius sih?”. Namun sebenarnya seberapa pentingkah perkataan?

Perkataan adalah salah satu keserupaan dan kesegambaran kita dengan Allah, yang tidak diberikan pada makhluk lain dan merupakan cara paling utama untuk mengekspresikan sesuatu. Allah menyatakan diri-Nya lewat Firman (The Word of God) dan dalam pribadi Yesus, Firman yang turun menjadi manusia. Segala sesuatu dijadikan lewat perkataan firman.

“Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.”

Kejadian 1:3

Firman lain menyatakan kebenaran tentang pentingnya perkataan:

“Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati”

Matius 12:34b

Perkataan merupakan ungkapan isi hati. Kita tidak dapat mengerti isi hati seorang apabila ia hanya diam. Tetapi saat ia berbicara, ia menyampaikan apa yang ada di dalam hatinya. Dengan demikian kata-kata menjadi penyambung antara apa yang ada di dalam hati seseorang dengan yang lain. Itulah sebabnya Allah menyebut diri-

Nya sebagai “The Word of God” karena Ia rindu kita mengerti isi hati-Nya. Yesus, Firman yang hidup, telah menjadi pernyataan isi hati Tuhan yang sempurna, mematahkan penghalang antara apa yang ada di dalam hati Allah dan manusia.

Perkataan adalah hal yang luar biasa, dan tidak untuk disepelekan atau disalahgunakan.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” Matius 12: 36-37

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”

Matius 5:37

“Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, …”

Kolose 4:6

Perkataan kita haruslah tepat, murni, dan seadanya, tidak dilebih-lebihkan atau berbelat-belit. Segala perkataan yang sia-sia tidak berlalu begitu saja namun akan menjadi pertanggungjawaban. Allah tidak menginginkan kita bermain-main dengan perkataan karena perkataan benar-benar berkuasa. Oleh perkataan Elia maka hujan tidak turun selama tiga setengah tahun. Oleh perkataan pula maka hujan kembali turun.

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi. Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dan dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya”

Matius 21:21-22

Janji firman di atas menunjukkan betapa berkuasanya perkataan kita. Lewat perkataan kita dapat memindahkan gunung. Tentu saja iman berperan sangat penting dalam hal ini, namun iman pun dapat timbul lewat memperkatakan firman setiap hati. Kita bukan berperang melawan darah dan daging melainkan penguasa di udara. Dengan perkataan kita mengalahkan yang jahat.

“Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka.”

Wahyu 12:11a

Kita tidak boleh berkompromi dengan perkataan karena iblis pun tidak berkompromi terhadapnya. Hanya ada dua pilihan, kita yang mengalahkan atau dikalahkan, tidak ada jalan tengah. Sangat ironi kalau kita yang sekarang telah berstatus lebih dari pemenang oleh karya Kristus tetap dikalahkan oleh karena perkataan yang sia-sia (thoughtless word / idle word). Yang saya maksudkan disini adalah bahwa di dalam setiap waktu, kita perlu memikirkan dulu apa yang ingin kita katakan sehingga iblis tidak berkesempatan untuk menjadikannya bumerang bagi diri kita maupun orang lain. Ingat, perkataan kita berkuasa!

Saya sendiri mengalami betapa setiap perkataan yang baik dan benar yang saya ucapkan tidak hanya memberkati orang lain yang mendengar tetapi juga saya secara pribadi. Semakin banyak saya menyaring perkataan sia-sia dan tidak benar, semakin saya mudah mempercayai firman. Mengapa? Karena apa yang kita dengar (termasuk kata-kata yang kita ucapkan sendiri) membentuk benteng dalam pikiran. Jika kita memperkatakan apa yang buruk atau sia-sia, kita sedang membentuk benteng pikiran yang baru, yang menentang kebenaran firman. Jika kita memperkatakan kebenaran firman, maka kita pun dimerdekakan olehnya.

Selain perkataan yang diucapkan pada orang lain, kita juga perlu memperhatikan apa yang kita perkatakan dalam doa. Perkatakanlah firman dalam doamu dengan penuh iman, maka firman itu tidak akan kembali dengan sia-sia.

So, watch your words and be blessings!

Advertisements
%d bloggers like this: