Motivation Day di Baleendah 18 Februari 2012

Pada hari Sabtu, 18 Februari 2012, tim Sion mengadakan acara Motivation Day di sebuah sekolah di Baleedah, wilayah Bandung. Acara ini dikemas oleh Sioners angkatan 2008 dan bertujuan untuk memberkati siswa-siswi di Baleendah dengan  3 bagian acara, yaitu tes minat dan bakat, motivation sesi 1: Berdamai dengan Keluarga, dan motivation sesi 2: Jati Diri.

Perjalanan kami dari Gerbang Ganesha menuju Baleendah diwarnai dengan sukacita. Sioners 2011 terlihat begitu antusias, bagaimanapun, ini adalah kali pertama mereka melayani sebagai konselor. Walaupun kami tidak membawakan teologi Kristen sama sekali dalam acara ini, kami sebagai keluarga di Sion, baik yang masih muda dan yang sudah alumni, merasa ini kesempatan baik untuk membagikan berkat bagi pelajar.

Setibanya di lokasi, kami disambut dengan sangat baik. Puji Tuhan, awalnya disebutkan hanya ada 4 kelas saja yang mengikuti Motivation Day ini, namun ternyata ada 6 kelas. Keenam kelas ini dibagi menjadi dua kelas dan tim dengan segera menyesuaikan diri dengan situasi yang berubah ini dan membagi tim menjadi dua.

kondisi saat games

Kami sangat terkesan dengan keantusiasan dan kehangatan yang menyambut kami di dua kelas yang kami datangi. Kami memperkenalkan diri sebagai mahasiswa ITB, ATPK dan ITHB. Di masing-masing kelas, kami membuka acara dengan games, dimana gelak tawa dan kehangatan terpancar begitu rupa. Selanjutnya, adik-adik pelajar mengisi lembaran tes minat bakat pada lembaran yang telah kami siapkan. Sehabis itu, acara bagian pertama ditutup dengan waktu istirahat, sholat dan makan siang.

para pelajar mengisi lembaran tes minat dan bakat

Kami, Sioners, percaya, setiap manusia memiliki bibit pemenang dan dapat mencapai potensi maksiamlnya. Hal inilah yang mendorong kami untuk membagikan motivasi kepada adik-adik pelajar. Berdasarkan yang kami alami sendiri, hubungan yang rusak dengan keluarga dan juga ketidakmampuan untuk memahami jati diri yang sesungguhnya kerap menjadi faktor penghambat bagi seseorang untuk mencapai potensi terbaiknya.

Oleh karena itu, di sesi pertama, kami membagikan konsep “Berdamai dengan Keluarga”. Dengan tulus, tanpa memasukkan unsur-unsur Kristiani, kami memotivasi adik-adik pelajar untuk memaafkan ayah, ibu ataupun saudara mereka yang pernah menyakiti mereka. Hubungan yang baik akan melapangkan hati dan menuntun diri untuk terfokus kepada hal yang penting, yaitu memaksimalkan potensi diri. Hati yang dipenuhi kebencian, trauma, sakit hati sangat menguras jiwa dan pikiran, sehingga menyebabkan banyak anak muda lupa memaksimalkan potensi diri bahkan lari ke hal-hal yang negatif.

Motivasi dibagikan dengan ringkas dan tepat sasaran. Atmosfer penerimaan bergulung-gulung di kelas-kelas yang kami masuki. Hal ini terlihat jelas, ketika peserta motivasi bertemu kami sebagai konselor, curahan hati yang tidak tertahan mengalir dari mereka. Banyak yang menangis, bercerita dengan terbuka dan memberi diri memaafkan kedua orang tua mereka. Kelegaan dari hati mereka ditandai dengan surat yang mereka masing-masing tuliskan kepada orang tua, surat pertanda mereka memaafkan, menyayangi dan menerima kedua orang tua mereka apa adanya.

suasana konseling sesi satu "Berdamai dengan Keluarga"

Sesi kedua, yaitu jati diri, diperkenalkan untuk memotivasi para pelajar untuk mengetahui, menyadari dan memandang bahwa diri mereka berharga. Anak muda banyak mencari keebrhargaan dari prestasi, kepopuleran, latar belakang, penampilan dan pengakuan lainnya. Kami membawa mereka kepada pengenalan yang utuh bahwa mereka berharga dan unik karena Pencipta menciptakan setiap orang dengan kasih sayang. Kami mengajak adik-adik pelajar untuk menghargai diri mereka sebagai ciptaan berharga sang Pencipta. Motivasi mengalir dan membawa mereka mengerti bahwa mereka tidak boleh ragu untuk bermimpi, mengusahakan yang terbaik, dan membangun masa muda mereka dengan hal-hal yang positif; sebab hidup mereka berharga.

suasana kelas saat motivasi "Jati Diri" dibagikan

Sesi dua dan acara secara keseluruhan ditutup dengan konseling mengenai jati diri. Kami melihat dan mengimani, ada hidup pelajar-pelajar Baleendah yang diperbaharu, pola pikir yang diubahkan, dan bagian jiwa yang telah terbebas.

Berikut testimoni dari seorang peserta Motivation Day:

Pertama-tama D makasih banget buat kaka2 mentor dari ITB, karena udah mau dteng ke sekolah kita dalam acara minat bakat dan motivasi. Yang paling aku seneng dan berterimakasih pada saat sesi I , sesi berdamai dengan keluarga. Aku teringat sama ceritanya kak Jefri (Sioners yang memberi testimoni awal, red) yang menggambarkan keadaan keluarganya seperti apa dan lika liku hidupnya sampe bisa ada di Bandung dan kuliah di ITB
trus stelah liat video “forgiven” itu aku serasa ngaca diri sendiri kak, 
Kalian dateng pada saat aku butuh motivasi dan smangat, di saat aku bingung harus cerita sama siapa.
Karena dengan segala permasalahnku, yang memang ayahku gak sayang sma keluarganya dia lebih menyayangi binatang peliharaanya dibanding istri dan anak-anaknya, dan mungkin seluruh waktunya dia dedikasikan buat hewan-hewannya itu, aku gak tau knpa ayah lebih sayang dan perhatian sama hewan peliharaanya. Sampe pada akhirnya aku ngerasa orangtuaku gak bisa ngasih contoh yang bener, gak bisa ngasih motivasi dan  aku ngerasa aku tuh  kehilangan semangat.
Akhirnya aku jadi jarang tidur dirumah, aku lebih milih tidur di rumah salah satu guruku yang kurasa dia bisa ngasih apa yang aku lagi butuhkan. Tapi waktu kmaren klian dateng, kalian jelasin bahwa segimana kita di sakitin kita harus bisa maafin itu,dan aku makasih banget sama ka Cia (Sioners konselor D, red), karena kakak udah mau berusaha bukain mata dan hati D buat bisa maafin ayah.
D janji kak, buat maafin ayah meskipun emang sulit, tapi D mau ko brusaha pelan-pelan buat maafin ayah,makasih ya kakak-kakak mentor, berkat kalian aku jadi sadar bahwa apa yang aku lakukan itu salah, terutama sama ka Cia, makasih karena kaka udah ngasih pundak dan pelukanya buat D…
Makasih sekali lagi, love you kak..
D harap kita bisa ketemu lagi……   

-D-

Berikut pengalaman Sioners 2011 ketika mereka melakukan konseling dengan adik-adik pelajar:

Melihat mereka seperti melihat saya di masa lalu, namun dengan kisah masa lalu yang tidak separah kisah mereka. Ketika mereka mengetahui betapa berharganya diri mereka, ketika mereka memutuskan untuk memaafkan keluarga mereka, saya seperti melihat diri saya ketika pertama kali mengetahui dan melakukan hal-hal itu. Ketika mereka menceritakan kisah hidupnya, saya menjadi bersyukur karena kehidupan saya jauh lebih baik dari mereka. Saya angkatan 2011 dan ini pertama kalinya saya menjadi konselor. Bukan hanya rasa bersyukur, tetapi saya juga merasa Tuhan sedang mengajarkan tentang kasih melalui acara ini. Kalau biasanya saya merasa cuek dengan orang lain, maka hati yang tak tenang ketika mendengar cerita mereka, hati yang peduli dan ingin membangkitkan semangat mereka, Tuhan izinkan untuk saya miliki mulai hari itu. Sampai sekarang saya dan anak-anak konseling saya masih saling berkomunikasi, saya senang akan keterbukaan mereka yang juga mengajarkan saya banyak hal baru. Kasih yang Tuhan berikan memang indah, begitu indahnya hingga membuat kita menjadi anak-anak kecil yang mudah terkagum-kagum dengan hal-hal tidak biasa yang sering terabaikan.

“Sesudahnya aku merasa menjadi aku yang baru, aku merasa hidupku lebih berharga dari sebelumnya. Kalau sebelumnya aku merasa hidupku ini akan seperti ini saja tanpa perubahan, ternyata salah. Senang sekali aku bisa ketemu kakak, dan teman-teman kakak. Jujur aku haus akan motivasi. Terima kasih, kak.

(sms dari seorang anak konseling)

-Gisel (FTI 2011)-

Perjalanan dalam Bapa yang sungguh luar biasa. Cerita mereka, jujur saja begitu asing di telinga saya. Saya kira tidak ada kisah seperti ini. Tetapi Tuhan seperti menunjukkan bahwa pahit hati ini, masalah-masalah ini tidaklah jauh dari kita, mereka ada di sekitar kita, dan itu banyak terjadi. Dan seperti Tuhan Yesus berkata bahwa Ia datang untuk yang berbeban berat, maka Ia datang juga untuk anak-anak ini. Mereka begitu sakit. Ketika mereka sendiri tidak bisa kuliah bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena mereka tidak diijinkan. Miris bukan. Dalam benak saya, mereka seakan merasa tidak pantas untuk bermimpi. Langkah mereka seakan sudah selesai. Tidak ada harapan.

Dan hati mereka yang haus itu seakan mulai dipuaskan dengan perkataan Tuhan di dalam sesi-sesi ini. Mereka begitu bersemangat dan mulai merangkai mimpi mereka, cita-cita mereka setelah mereka tahu bahwa mereka begitu berharga di mata Tuhan. Dan benar ada tertulis bahwa ketika kita melangkah sedikit saja, kepada mereka, maka hati dan jiwa mereka yang haus akan mengejar balik kita. Setelah kegiatan ini pun mereka masih mengirim sms. Dan dalam nama Tuhan Yesus, berita keselamatan, injil Tuhan akan sampai ke ujung bumi. Amin.

-Jill (FTI 2011)-

Kami merasakan antusias dan penerimaan yang besar, sepertinya merasa ingin lebih lama bersama dengan adik-adik yang ada di Baleendah. Kepulangan kami memang menyisakan keletihan jasmani, tapi siapa peduli, karena semangat dan roh kami diperbaharui dengan sukacita surga, sebab sekali lagi, Tuhan membawa kami untuk memberkati saudara-saudara kami di bangsa ini.

Syukur kepada Pencipta, yang menciptakan, memelihara, membalut luka dan mengerjakan pekerjaan baik di dalam kami yang telah Dia persiapkan sebelumnya. Amin.

Advertisements
%d bloggers like this: