Ketekunan

person-walking-in-the-desert

Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, 

menyimpannya dalam hati yang baik

dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” Luk 8:15

 

And that in the good ground, these are such as in an honest and good heart, having heard the word, hold it fast, and bring forth fruit with patience. (ASV)

Salah satu hal yang kita perlu belajar alami dalam pertumbuhan iman kita adalah tentang ketekunan.

Kata ketekunan di Lukas 8 : 15 berasal dari kata hupomonḗ  atau makrothumía, atau dalam bahasa Inggris berarti patience (kesabaran). Kata hupomonḗ  memiliki arti cheerful/ hopeful endurance(ketahanan yang disertai sukacita/pengharapan), constancy (keteguhan, kesetiaan), waiting(menantikan/ menunggu).

Luk 8:11-15  Perumpamaan Penabur Benih

 Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah.

Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.

Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.

Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.

Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”

Dalam perumpamaan tentang Penabur Benih di Lukas 8, kita dapat belajar bahwa respon yang berbeda terhadap firman Allah, akan menghasilkan dampak yang berbeda pula atas hidup kita. Ada empat hasil yang berbeda, ada orang yang tetap tidak percaya, ada orang yang hanya percaya sebentar saja, ada orang yang bertumbuh sebentar tapi tidak berbuah, dan ada juga orang yang bertumbuh dan akhirnya berbuah dalam ketekunan.

Kata ketekunan dalam perumpamaan di atas memiliki arti yang penting. Ada perbedaan besar terutama antara benih yang jatuh di tanah bersemak duri dan benih yang jatuh di tanah subur. Dua hal yang jauh berbeda dari dua jenis tanah tersebut berbicara tentang kekuatiran dan ketekunan. Dua hal yang sangat berlawanan.

Dalam perjalanan kita mengikuti Tuhan, akan ada pencobaan, masalah, dan hal-hal lain dalam hidup, hanya saja ada dua respon yang berbeda yang dapat kita pilih. Apakah kita mau memilih untuk terhimpit oleh kekuatiran atau mencintai kembali dunia ini (kenikmatan hidup), sehingga akhirnya tidak menghasilkan buah. Atau kita mau memilih untuk menyimpan firman yang kita dengar dan bertekun di dalamnya sampai akhirnya menghasilkan buah dalam kehidupan kita.

Pe 1:5-16

Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,

dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan,

Dari ayat di atas, dijelaskan bahwa di dalam iman kita kepada Kristus ada beberapa hal yang perlu ditambahkan, dan salah satunya adalah ketekunan. Jadi ketekunan bukanlah hal yang tidak penting untuk dikejar, melainkan kita harus mengerti bahwa ketekunan merupakan salah satu hal penting yang harus kita miliki dalam kehidupan iman kita di dalam Yesus.

Ketekunan berarti kita belajar untuk menjadi konstan, setia melakukan firman Tuhan, termasuk bersabar menantikan janji Tuhan tergenapi dalam hidup kita.

Ibrani  10:36

Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.

Ibrani 6:15

Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikankepadanya.

Ketika kita mengerti kehendak Tuhan, dan kita belajar memulai melakukannya di situlah kita perlu belajar untuk tekun dan setia melakukannya, kenapa..? Karena dengan jelas Alkitab berkata kita memperoleh apa yang dijanjikan jika kita bertekun dalam melakukan kehendak Allah.

Contoh nyata di Alkitab adalah Abraham. Abraham harus menantikan kelahiran Ishak selama lebih dari 20 tahun setelah dia mendapat janji Tuhan, dan akhirnya dalam kesabarannya di dalam Tuhan, Abraham memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya.

Dalam kehidupan pribadi kita saat ini, mungkin kita sedang belajar untuk mulai melakukan kehendak Allah yang kita tahu, baik itu dalam studi, memulai untuk memuridkan, memulai setia saat teduh, memulai memperbaiki hubungan dengan keluarga, dan lainnya. Firman Tuhan berkata kita memerlukan ketekunan, supaya sesudah kita melakukan semuanya itu kita memperoleh apa yang Tuhan sediakan bagi kita. Sebagian dari kita mungkin bergumul tentang nilai studi, sebagian mungkin tentang mendapatkan anak rohani atau tentang anak rohani yang saat ini belum setia, sebagian mungkin untuk pertobatan keluarganya, bagian kita adalah bertekun di dalam melakukan kehendak Allah. Karena Allah kita setia, dan Dia tidak pernah berdusta atas firman dan janji-janjiNya.

Rom 15:5a  Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan

Tuhan sendirilah yang menjadi sumber kekuatan untuk kita menjadi tekun dan bersabar dalam pengharapan kita kepada janji-janjiNya. Dan baiklah setiap kita akhirnya mengeluarkan buah dalam ketekunan, ketika kita menyimpan setiap firmanNya dalam hati kita dan melakukanNya. Iman tanpa perbuatan adalah mati, karena itu ketika menerima janji Tuhan kita harus bertekun dalam melakukan firmanNya sampai akhirnya kita melihat janji itu tergenapi. Dan setiap janji Tuhan atas studi kita, keluarga kita, dan anak rohani kita akan tergenapi di dalam kesetiaanNya.

Bersukacitalah dalam pengharapan, karena Allah yang kita sembah adalah Bapa yang baik dan setia, yang lebih rindu menggenapi janjiNya untuk kita.

Christine Oktaviani

Advertisements

About the post

Teaching

%d bloggers like this: