Something about Faith

Runners

 

Di suatu tempat di ITB, pada suatu siang, saat sedang bergegas ingin masuk kelas, ada suatu peristiwa menarik yang terjadi. Saat itu, saya ingin naik lift karena ruangan kelas di lantai 4. Iseng seperti biasa, saya tekan tombol untuk menurunkan lift, kemudian, saya seperti meletakkan tangan di depan pintu lift dengan yakin bahwa tidak ada orang di dalam lift ketika pintu lift itu terbuka. 4.. 3… 2.. 1.. akhirnya angka penunjuk posisi lift menunjukkan angka satu, tangan saya masih pada pintu lift, tapi sesaat sebelum pintu lift terbuka, saya menarik tangan saya kembali karena saya takut apabila ternyata dugaan saya salah dan di dalam lift ternyata ada orang. Ternyata tidak ada orang di dalam lift, maka saya masuk dan naik ke lantai 4. Dalam perjalanan ke atas saya diam saja dan ketika sampai di lantai 4 Tuhan berbicara sesuatu. Kurang lebih Dia mengajarkan bahwa iman adalah seperti ketika saya meletakkan tangan saya di depan pintu lift, sampai pintu terbuka dan tidak ada orang di dalam. Seperti itulah iman, saya saat itu yakin di dalam lift tidak ada orang, saya meletakkan tangan saya, tapi pada saat-saat terakhir saya menarik tangan saya, itu bukan iman. Iman itu percaya sampai akhir, sampai pintu lift benar-benar terbuka.

Apa yang coba Tuhan ajarkan ada beberapa poin yang saya tangkap:

  1. Di dalam iman, kita harus melangkah dengan tindakan

Yak 2:17 “Demikian juga halnya dengan iman: jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.”

Saya tidak akan merasa puas hanya dengan yakin bahwa di dalam lift tidak ada orang, tapi saya akan merasa lebih puas apabila apa yang saya yakini itu dibuktikan dengan tindakan, yaitu meletakkan tangan saya pada pintu lift.

Demikian juga dengan iman. Iman harus disertai dengan perbuatan, jadi iman dan perbuatan harus bergerak secara parallel. Ini yang jarang saya jumpai, terkadang dalam doa kita “begitu beriman”, tetapi selesai doa, tidak ada hal yang kita lakukan. Kita berdoa supaya anak PA kita dilawat Tuhan, tetapi kita tidak pernah mengunjungi mereka atau kita tidak pernah melayani mereka pemulihan dasar, dan sebagainya. Ini bukan iman. Iman itu percaya sekalipun keadaan tidak mungkin. Saya sering memikirkan apa yang akan terjadi ke depan, dalam upaya antisipasi, sebagai contoh, apa yang akan saya lakukan ya apabila di HC ini anak PA saya tidak dapat BRK, saya sering punya pikiran seperti itu, tetapi setiap kali saya berpikir seperti itu, Tuhan ingatkan saya bahwa saya harus percaya kepada Tuhan dan rencana Tuhan tidak bisa kita pikirkan bagaimanapun caranya.

Jadi, iman harus melangkah. Daud beriman mengalahkan Goliat (terlihat dari apa yang dikatakan olehnya), tetapi apabila Daud tidak maju berperang, tidak akan ada kemenangan, dan masih banyak contoh pahlawan iman lainnya.

 

  1. Iman itu tidak bersifat sementara dan tidak tergantung pada keadaan.

 

Saya selalu berdoa supaya setiap dari kita diubahkan oleh Tuhan, memiliki iman yang mampu memindahkan gunung, iman yang menerobos setiap kemustahilan, berjalan di dalam kegelapan dengan iman karena kita tau ada tangan Tuhan yang menuntun kita. Untuk melihat pekerjaan Tuhan yang besar, kita harus berada dalam posisi dimana manusia tidak bisa menolong kita.

 

Tuhan memberkati

 

Stefanus Setiawan

Advertisements
%d bloggers like this: