Self-absorbed Grace – Learning from Jonah and Ninevites

by Jimmy Petra Sanjaya

Perbedaan antara anak-anak Allah, baik para martir, hamba-hamba Tuhan, sampai
mereka yang baru mengenal Yesus hanyalah sedalam kulit. Pada dasarnya, semua adalah
penikmat kasih karunia Allah. Tanpa kasih karunia, kekristenan menjadi sama dengan
agama-agama dunia.
“Dari tiga ratus juta Tuhan yang disembah oleh manusia, hanya Yesus Kristus yang
menawarkan pengampunan sejati.” (Ravi Zacharias)

Walaupun kehidupan setelah lahir baru penuh dengan penderitaan, kemiskinan,
penolakan, dan penghinaan, semuanya tidak terhitung merugikan karena keselamatan yang
Allah janjikan. Di saat janji keselamatan terlupakan, sedikit penderitaan sudah cukup
membuah hidup tidak tertahankan.

Pengikut Kristus yang penuh dengan keluh kesah tentu sudah lupa akan apa yang
menantinya di kehidupan setelah kematian. Bayangkan saja, bagaimana kita bisa
menanggapi fakta bahwa seorang juru selamat mati bagi kita dengan biasa-biasa saja?

Seorang hamba Tuhan melayani anak-anak muda Afrika dengan mengadakan KKR
dan memberikan tantangan untuk menjadi misionaris menjadi sangat kaget setelah melihat
tingginya jumlah pendaftar. Ia kemudian menanyai salah satu pendaftar mengapa ia
merelakan hidup mudanya untuk menjadi misionaris. “Anda gila ya? Yesus sudah mati bagi
saya!”, jawab sang pendaftar.

Kematian Yesus di atas kayu salib menjadi cliche dan kidung pujian dinyanyikan sambil
membersihkan kuku. Dimana tidak ada kesadaran akan kasih karunia, kekeringan melanda
negeri.

Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah
banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia buat kasih.
Lukas 7:47

Yesus berbicara mengenai perempuan pendosa yang mengurapi kaki Yesus dengan
minyak dan air matanya. Berbeda dengan orang Farisi (Simon) yang menolak kasih karunia,
perempuan tersebut dipenuhi ucapan syukur dan kerinduannya untuk menyatakan syukur
pada Yesus. Kasih karunia Allah merupakan kenangan yang begitu manis dan obat mujarab
bagi hati yang perlahan telah menjadi dingin.
Tulisan ini akan membahas kitab Yunus dan sikap hatinya dalam menyingkapi kasih
karunia Allah yang (ternyata) tertuang kepada bangsa Israel dan bangsa lain. Tema utama
dalam Kitab Yunus adalah bagaimana Allah mengasihi bangsa-bangsa dan memberikan
kasih-Nya pada mereka bahkan sebelum masa perjanjian baru. Kitab Yunus baik untuk
dijadikan perenungan mengenai kasih karunia karena Yunus hidup sebagai nabi pada masa
Allah mengembalikan kepada Israel daerah kekuasaannya sesuai yang diberikan kepada
Salomo setelah melalui masa penyiksaan.

Yunus merupakan nabi pada masa pemerintahan Yerobeam bin Yoas sebagai raja Israel
(782-753 B.C.) yang mendapat panggilan dari Allah untuk menyampaikan pesan Allah
kepada Kota Niniwe.

Datanglah firman Tuhan kepada Yunus bin Amitai, dimikian: “Bangunlah, pergilah ke
Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai
kepada-Ku.” Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan Tuhan;
ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis.
Yunus 1:1-3a

Yunus melanggar dan mencoba untuk kabur dari hadapan Tuhan dengan mengambil
arah yang berlawanan menuju Tarsis hanya untuk mendapati Tuhan melakukan intervensi
besar dengan mendatangkan angin ribut ke laut dan mengacaukan perjalanan laut Yunus.
Penumpang kapal mengetahui melalui undi bahwa oleh Yunuslah musibah ini datang
menimpa mereka.

Lalu berserulah mereka kepada Tuhan, katanya: “Ya Tuhan, janganlah kiranya Engkau
biarkan kami binasa karena nyawa orang ini dan janganlah Engkau tanggungkan kepada
kami darah orang yang tidak bersalah, sebab Engkau, Tuhan, telah berbuat seperti yang
Kaukehendaki.” Kemudian mereka mengangkat Yunus, lalu mencampakkannya ke dalam laut,
dan laut berhenti mengamuk.
Yunus 1:14-15

Pencampakan Yunus ke dalam laut dilanjutkan dengan kejadian iconic yang dipelajari di
Sekolah Minggu yaitu Yunus di perut ikan. Yunus berdoa dan menyanyikan kasih karunia
Allah dan ikan tersebut memuntahkan Yunus ke darat.

Niniwe merupakan kota yang besar dan terletak di pinggiran Sungai Tigris pada daerah
Asyur (Assyria) dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki (tidak melalui perairan). Yunus
menubuatkan bahwa dalam kurun waktu 40 hari, Niniwe akan ditunggangbalikkan seperti
Sodom dan Gomora. Warga Niniwe dari jajaran raja sampai kepada rakat jelata percaya
kepada Allah dan mengambil waktu puasa dengan harapan Allah berbalik dari rancangan-
Nya. Oleh kasih karunia Allah, Niniwe memperoleh pengampunan.

Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik
orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung.
Yunus 3:5
Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah
lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-
Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya.
Yunus 3:10

Hal yang menarik adalah sikap hati Yunus setelah mengetahui pengampunan Allah
tersedia bagi Niniwe.

Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. Dan berdoalah ia kepada
Tuhan, katanya: “Ya Tuhan, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku?
Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa
Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih
kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Jadi
sekarang, ya Tuhan, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati daripada hidup.
Tetapi firman Tuhan: “Layakkah engkau marah?”
Yunus 4:1-4

Hal yang mengejutkan dalam doa Yunus bukan hanya kemarahannya, namun juga
keluhannya akan kebaikan Allah. Yunus menyatakan bahwa justru sifat Allah yang penuh
kasih yang membuat ia kabur ke Tarsis.

Untuk melihat lebih dalam mengenai sikap Yunus, kita perlu belajar terlebih dahulu
tentang latar belakang nabi Yunus. Ia adalah salah satu nabi yang hidup pada masa
pemerintahan Yerobeam bin Yoas bersama dengan Hosea dan Amos. Oleh dosa
pendahulunya raja Yoahas (2 Raja-raja 13:1-8), kerajaan mengalami keterpurukan dari
serangan Hazael, raja Aram (Syria). Israel kehilangan sebagian besar wilayahnya di utara dan
penindasan yang dilakukan oleh raja Aram memimpin Yoahas untuk memohon belas kasihan
Tuhan.

Tetapi kemudian Yoahas memohon belas kasihan Tuhan, dan Tuhan mendengarkan dia,
sebab Ia telah melihat, bagaimana beratnya orang Israel ditindas oleh raja Aram. Tuhan
memberikan kepada orang Israel seorang penolong, sehingga mereka lepas dari tangan Aram
dan dapat duduk di kemah-kemah mereka seperti yang sudah-sudah. Hanya mereka tidak
menjauh dari dosa-dosa keluarga Yerobeam, yang mengakibatkan orang Israel berdosa pula,
melainkan mereka terus hidup dalam dosa itu. Juga patung Asyera masih berdiri di Samaria.
2 Raja-raja 13:4-6

Tuhan menjawab doa Yoahas karena janji-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub
dengan mengirimkan Adad-nirari III, raja Asyur (810-783 B.C.) untuk menginvasi kerajaan
Aram sehingga melemahkan cengkraman Aram atas Israel. Yoas (penerus dari Yoahas)
menggunakan kesempatan ini untuk merebut kembali daerah-daerah Israel dari tangan
Aram. Tiga kali Yoas mengadakan invasi atas Aram setelah kematian raja Hazael dan Israel
berhasil mendapatkan kota-kotanya kembali. Di bawah pimpinan Yerobeam bin Yoas (Raja
Israel berikutnya), Israel mendapatkan kembali daerah-daerahnya sehingga kekuasaannya
kembali seperti pada masa Salomo.

Dari pemerintahan Yoahas, Yoas, sampai Yerobeam bin Yoas, Israel hidup dalam dosa
dan penindasan. Satu-satunya yang membuat mereka bertahan adalah karena janji Tuhan
untuk tidak membiarkan nama Israel dihapuskan dari kolong langit.

Dalam tahun kelima belas zaman Amazia bin Yoas, raja Yehuda, Yerobeam, anak Yoas, raja
Israel, menjadi raja di Samaria. Ia memerintah empat puluh satu tahun lamanya. Ia
melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Ia tidak menjauh dari segala dosa Yerobeam bin
Nebat, yang mengakibatkan orang Israel berdosa pula. Ia (Yeroboam bin Yoas)
mengambalikan daerah Israel, dari jalan masuk ke Hamat sampai ke Laut Araba sesuai
dengan firman Tuhan, Allah Israel, yang telah diucapkan-Nya dengan perantaraan hamba-
Nya, nabi Yunus bin Amitaidari Gat-Hefer. Sebab Tuhan telah melihat betapa pahitnya
kesengsaraan orang Israel itu: sudah habis lenyap baik yang tinggi maupun yang rendah
kedudukannya, dan tidak ada penolong bagi orang Israel. Tetapi Tuhan tidak mengatakan
bahwa Ia akan menghapuskan nama Israel dari kolong langit; jadi Ia menolong mereka
dengan perantaan Yerobeam bin Yoas.
2 Raja-raja 14:23-27

Yunus melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Tuhan tetap setia dan
menganugrahkan kembali daerah milik Israel yang direbut tangan musuh, walaupun orangorang
Israel menjauhkan diri dari Tuhan dan sulit untuk diatur. Bahkan nubuatan Tuhan
mengenai kemenangan Israel datang melalui Yunus. Hal ini yang membuat Yunus mengerti
dan menyanyikan tentang kasih karunia Allah semasa di perut ikan.

“Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada Tuhan, dan sampailah doaku
kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus. Mereka yang berpegang teguh pada berhala
kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia. Tetapi
aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan
akan kubayar. Keselamatan adalah dari Tuhan!”
Yunus 2:7-9

Yunus bersyukur untuk kasih karunia Allah pada dirinya dan Israel, namun marah
melihat kasih yang sama tertumpah atas orang-orang Asyur di Niniwe. Melalui perkataannya
dalam Yunus 4:1-4 dapat dilihat bahwa Yunus tahu bahwa Allah mungkin akan membatalkan
hukuman yang Ia rencanakan dan itu tidak menyenangkan hatinya.

Niniwe masuk ke dalam kerajaan Asyur, salah satu kerajaan besar yang menjadi
ancaman bagi kerajaan Israel. Terbukti bahwa beberapa tahun setelah masa raja Yerobeam
bin Yoas, tepatnya pada masa pemerintahan Pekah, Asyur merebut beberapa daerah Israel
seperti Iyon, Yanoah, dan Galilea serta mengambil penduduknya kedalam pembuangan.
Kemarahan Yunus diakibatkan salah satunya oleh rasa iri karena Tuhan juga menunjukkan
kasih-Nya pada musuh kerajaan, orang-orang yang jauh.

Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di
situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang terjadi atas
kota itu.
Yunus 4:5

Yunus dalam hatinya masih mengharapkan Niniwe ditunggangbalikkan. Di tengah
kekesalannya, ia keluar dari kota dan mencari tempat yang aman sambil mengamati apa
yang terjadi pada kota tersebut.

Lalu atas penentuan Tuhan Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus
untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita
karena pohon jarak itu. Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan
Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu. Segera sesudah
matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga
sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati,
katanya: “Lebih baiklah aku mati daripada hidup.” Tetapi berfirmanlah Allah kepada
Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku
marah sampai mati.”
Yunus 4:6-9

Tuhan menumbuhkan pohon jarak dan membuat Yunus bersukacita. Saya
membayangkan di saat ini Yunus merasa dirinya spesial karena Allah ‘melayani’ dia dan
menudunginya dari panas terik matahari. Lucunya, tepat esok hari Allah mengambil pohon
tersebut dan mengizinkan angin timur dan panas terik menyengat kepala Yunus.

Lalu Allah berfirman: “Engkau sayang kepda pohon jarak itu, yang untuknya sedikit pun
engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu
malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang
berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan
tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?”
Yunus 4:10-11

Inti dari kitab Yunus terdapat dari dua ayat terakhir, dimana Tuhan menjelaskan poin
penting melalui pohon jarak yang ia tumbuhkan. Yunus dibawa Allah untuk merasakan hati-
Nya melalui perumpamaan pohon jarak. Yunus tidak menanam dan menyiram pohon
tersebut, namun disaat pohon tersebut diambil Yunus panas hati dan mengeluh. Yunus
merasa kehilangan peneduh kepalanya. Manusia merupakan satu-satunya ciptaan Tuhan
yang dibentuk oleh tangan-Nya dan dihembusi oleh nafas-Nya sendiri. Tuhan menciptakan
Eden dan memenuhinya dengan keindahan untuk buah hati-Nya Adam dan Hawa. Bahkan
di tengah pemberontakannya, Allah menjanjikan penyelamat kepada mereka. Setiap
pelanggaran yang dibuat oleh Israel melukai hati Allah namun tidak pernah cukup kuat
untuk membuat-Nya berpaling sepenuhnya. Allah memiliki ikatan hati yang begitu kuat
dengan manusia, jauh melebihi ikatan antara Yunus dengan pohon jarak. Bagaimana Allah
tidak sayang kepada Niniwe?
Allah bertanya kepada Yunus yang pertama, “Layakkah engkau marah?”, dan yang
kedua, “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” untuk membuat Yunus
menulusuri hatinya. Tuhan berkali-kali melontarkan pertanyaan kepada manusia bukan
untuk mendapatkan jawaban namun untuk memancing introspeksi diri seperti, “Di manakah
engkau? (Kejadian 3:9)”, dan “Di mana Habel, adikmu itu? (Kejadian 4:9)”. Pertanyaan
kepada Yunus membantu ia untuk sadar akan kedudukannya di hadapan Allah, bahwa ia
sama seperti orang Niniwe. Sayangnya hatinya terlanjur panas dan Yunus menjawab dengan
emosi tanpa berpikir lebih panjang.

Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran
memperoleh akal budi.
Amsal 15:32

Perenungan yang mendalam akan pertanyaan Allah dapat memberikan Yunus
pengertian yang baru akan kasih karunia. Dia akan mengerti bahwa dia datang dari bangsa
yang bertegar tengkuk akan dosanya namun tetap memperoleh pembelaan Allah dalam
perluasan kerajaan Israel selama masa Yerobeam bin Yoas. Terlebih lagi, Yunus juga akan
sadar bahwa ia pernah kabur dari Allah dan oleh kasih karunia ia dimuntahkan kembali ke
daratan ketimbang menjadi makanan ikan. Bangsa Niniwe yang disebut ‘tidak dapat
membedakan tangan kanan dan tangan kiri’ paling tidak langsung bertobat setelah
mendapatkan peringatan dari Allah, sedangkan Yunus harus mengalami tragedi di laut
terlebih dahulu sampai akhirnya taat. Belum dihitung pelanggaran Israel yang berkali-kali
menyimpang dan mengabaikan panggilan Allah untuk bertobat. Layakkah Yunus untuk
marah?

Yunus berarti silly atau senseless, yang berarti kurangnya kemampuan untuk menelaah.
Bin Amitai (Son of Amitai) berarti son of my faithfulness. Walau Yunus memiliki kemampuan
yang rendah untuk menelaah dan berpikir jernih, ia tetap merupakan objek kesetiaan Tuhan.
Itulah mengapa Tuhan mengajar Yunus dengan lembut melalui perlambangan pohon jarak.

Kemampuan untuk mengasihi bertumbuh bersama kesadaran akan pengampunan
dosa. Hal yang terbaik untuk meredakan amarah, konflik antar saudara seiman, dan
mengobarkan api penginjilan adalah dengan kembali mengingat kasih karunia. J. Hudson
Taylor memilih menghabiskan 6 bulan terakhir dalam hidupnya untuk berlayar kembali ke
Cina, negara yang telah berkali-kali menolaknya, bahkan membunuh setiap anak-anak
rohaninya, karena sadar bahwa kasih karunia Allah tersedia juga bagi mereka.

Apakah Allah tidak diperbolehkan memiliki belas kasihan kepada 120.000 orang
Niniwe beserta ternaknya sedangkan Yunus sendiri mengasihi pohon jarak yang tidak ia tumbuhkan? Manusia dengan kemampuan berpikir terbaik dibanding semua makhluk justru
dapat menjadi yang terbuta diantara ciptaan.

Advertisements
%d bloggers like this: