MAHASISWA ADALAH PANAH KRISTUS

By: Royanto Napitupulu

Mazmur 127:4  Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.

Melintasi banyak kota di negeri ini dan mengabdikan hidup untuk sebuah tujuan yang tak lazim bagi seorang muda tidaklah mungkin merupakan sesuatu yang pernah terpikirkan apalagi direncanakan selama belasan tahun kehidupan. Sejak kanak-kanak kita tentu berpikir tentang kehidupan yang makmur dan bahagia sehingga pikiran dan rencana – rencana kita akan selalu di-drive oleh motivasi demikian. Kita juga menyadari betapa masyarakat kontemporer bergerak dengan kecepatan yang luar biasa – begitu cepatnya sampai-sampai kita tidak sempat lagi berpikir tentang orang lain, melayani dan mengasihi. Sebuah penelitian mengeluarkan sebuah statement bahwa pendidikan anak-anak di generasi ini dirancang untuk mempersiapkan mereka bagi jenis pekerjaan yang bahkan belum ada pada masa ini. Betapa cepatnya kehidupan berjalan. Sibuk adalah kata yang tepat untuk memaknai zaman ini. Sebuah zaman di mana kita menghadapi generasi baru yang sangat egosentrik di era postmodern. Generasi ini telah terhilang jauh lebih cepat dan massive, dunia ini kian tercemplung jauh ke dalam dosa dengan kecepatan yg tak terbayangkan dari yang sudah-sudah.

Sion Raya
Mahasiswa yang siap dilawat Tuhan

Suatu kali saya berbincang dengan seorang dosen teologi saya: “ Indonesia ada di hati Tuhan dan Dia terlebih rindu untuk kemuliaan-Nya memenuhi bangsa yang besar ini. Mahasiswa adalah anak –anak panah Kristus yang akan bangkit untuk visi itu .“ Mendengar perkataan saya, beliau dengan murung mengatakan: “Setiap kali saya juga memikirkan hal yang sama bahwa orang – orang muda adalah harapan untuk kegerakan, tapi hingga kini saya semakin merasakan mereka lebih sukar untuk dipengaruhi dengan nilai –nilai dan tujuan ilahi. Betapa sukarnya membalikkan orang – orang muda masa kini dari jalan para oportunis.” 

Dalam kesempatan yang berbeda seorang dosen yang lain mengatakan: “Saya pernah berada dalam suatu masa dan melihat sekumpulan besar mahasiswa – mahasiswa Bandung itu begitu militan dan terjual habis untuk Tuhan. Tapi, nampaknya orang – orang seperti merekau sudah langka sekali.

Ada kesamaan yang terlihat di dalam pikiran banyak pelayan Tuhan ini bahwa mereka setuju mahasiswa adalah kesempatan yg paling besar untuk kegerakan, namun celakanya mahasiswalah (atau paling tidak pada rentang usia mahasiswa) yang paling terhilang di antara yang terhilang. Kita tentu ingat istilah 13-30 window (suku orang muda) yang dicetus oleh Jim Yost. Di kota – kota bahkan ke propinsi paling tertinggal sekalipun, mahasiswalah yang paling teracuni dan terikat di dalam dosa. Sepertinya, gagasan yang diharapkan bisa berhasil mengubah mahasiswa  adalah lewat pengajaran induktif. Itu mengapa kebanyakan pelayanan melakuan seminar – seminar, kelas – kelas, orientasi – orientasi, games – games dll. Saya tidak mengatakan bahwa ini salah. Situasinya adalah bahwa walaupun semua ini telah dilakukan dengan baik, kegelisahan – kegelisahan ini secara nyata berkecamuk di hati pelayan – pelayan Tuhan ini. Barangkali kegelisahan seorang pemimpin salah satu lembaga pelayanan mahasiswa di ITB ini lebih mencengangkan kita. Kegelisahannya terungkap lewat perkataannya bahwa betapa frustasinya melayani angkatan – angkatan belakangan ini. Betapa tidak, dahulu LP ini besar dengan komsel – komselnya namun hari ini sepi sampai – sampai mereka tidak lagi memakai term kakak PA dan anak PA dalam persekutuan. Beliau berkata: “ Saya harus memutar otak supaya acara terlihat fun dan mahasiswa mau datang. Mahasiswa yg kami bina tidak mau memakai atribut kakak PA dan anak PA.”

Dosen saya yang lain juga setuju bahwa kebanyakan sekolah teologia hari ini hanya menelurkan alumni2 yang banyak tau, pandai berargumen alkitabiah namun tumpul dalam karakter, moralitas dan spiritualitas. Beliau sering menghadiri pertemuan para teolog yang dipenuhi asap rokok. Idealisme hanya untuk berorasi dan berdebat tapi dalam hidup sehari – hari wajahnya berubah memalukan.

Dari wajah – wajah yang saya temui ini, jelas berkecamuk sebuah pertanyaan fundamental yang menggelisahkan. Apa yang hilang? Apa yang terlupakan?

Mazmur 127: 4 mengatakan bahwa orang – orang muda adalah bagaikan anak panah di tangan pahlawan. Seperti yang saya pernah katakan bahwa Indonesia ada di hati Tuhan dan Dia terlebih rindu untuk kemuliaan-Nya memenuhi bangsa yang besar ini. Mahasiswa adalah anak –anak panah Kristus yang akan bangkit untuk visi itu. Kristus akan membangkitkan anak – anak panah untuk tujuan-Nya. Di sepanjang sejarah alkitab, kita melihat bagaimana orang – orang muda begitu banyak digerakkan oleh hati Allah. Orang – orang muda adalah senjata Allah sejak mulanya dan Dia tidak sedang berubah di masa ini. Orang – orang muda akan senantiasa bangkit untuk hati Kristus. Kalau kita mau menelusuri alkitab, kita akan mendapati satu perkara utama yang mengubahkan hidup mereka menjadi agen kegerakan. Tak pelak, tidak mungkin tidak bahwa perkara itu ialah pengalaman perjumpaan dengan Allah. Allah hadir dengan berbagai cara: belukar menyala (Musa), api di penggilingan gandum (Gideon), penglihatan – penglihatan (Yesaya, Yehezkiel), suara di dalam mimpi (Yeremia, Samuel), padang penggembalaan (Daud), lalu kisah tangkapan besar di Galilea (Petrus, Yakobus dan Yohanes), sampai kepada cahaya terang yang membutakan (Paulus). Dan Allah benar –benar memanggil mereka apapun latar belakang mereka, dari budak – budak di negeri pembuangan hingga pembesar di istana Firaun, dari nelayan jelata sampai alumni sekolah farisi dengan kecerdasan kolosal.

Saya sering membayangkan apa yang sebenarnya Paulus lihat di jalan ke Damsyik sehingga dia berkata: Siapakah engkau, Tuhan? Kita sering membacanya begitu datar dan keliru sehingga perkataan itu tidak berarti. Bandingkan jika dibaca demikian: Sia

pakah engkau?! Tuhan????

Kita harus tahu bahwa Paulus adalah pria dengan intelektualitas sangat besar, bibit unggul, paling Ibrani di antara orang Ibrani, paling farisi diantara orang farisi, dari keturunan Abraham, dan dia mengaku telah menuruti hukum taurat tanpa cacat. Dan waktu itu Paulus sedang bersegera menuju Damsyik. Penuh kemarahan dan kebencian yang amat panas kepada orang percaya. Dia telah membunuh banyak orang, dia telah memisahkan keluarga-keluarga, mengejar mereka dari kota ke kota (Kis 26). Betapa hebat dan mengerikan teror yang telah dia sebabkan di antara jemaat mula – mula. Tapi apakah Anda menyadari? Pria yang otaknya penuh dengan teologi dan hatinya penuh dengan kemarahan itu telah menulis puisi yang paling agung tentang kasih; 1Co 13:1  Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Bayangkan keajaiban anugerah Tuhan.

Saya ingin menanyakan kelak di kekekalan mengenai ini. Ketika paulus dan rombongannya di jalan ke damsyik dan ketika tiba-tiba kuda paulus terjatuh karena cahaya itu. Saya yakin ada yang posisinya di depan paulus, ada di belakang dan di kiri dan kanannya. Mereka mengawal paulus karena orang sekelasnya ini belum pernah menuju Damsyik. Apakah hanya mereka saksi dari peristiwa itu? Saya percaya setiap iblis menyaksikannya dan juga para malaikat di surga. Iblis menyaksikan karena Paulus itu adalah agen terbaiknya. Dia membawa surat kuasa untuk membunuh siapapun yang dia mau. Sampai tiba – tiba Yesus menghentikan dia di tengah jalan. Apakah engkau bisa membayangkan pria itu terjatuh ke tanah? Apakah engkau berpikir dia akan menulis ke 14 surat penggembalaan ke jemaat-jemaat Perjanjian Baru dan apakah engkau pernah membayangkan bahwa ia akan melintasi pedalaman – pedalaman yang jauh terpencil dan berbahaya di seluruh dunia dan mendirikan 12 jemaat? Apakah engkau memikirkan bahwa dia akan didera dan dilemparkan ke dalam penjara yang terisolasi berkali-kali, namun bahkan dari dalam penjara itu dia telah menulis kepada jemaat2 seperti Kolose, Filipi dan Efesus surat cintanya kepada jemaat itu dan mengatakan: Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan!? Bukankah jemaat2 itu yang seharusnya mengirimkan surat penghiburan kepadanya? Mengapa? Karena di tengah jalan ke Damsyik itu, dia menjadi hidup. Formalitas ritual agamawi hilang seketika. Mata air kasih yang sejati mengalir dari hati yang sempat panas menyala dengan kebencian. Keajaiban kelahiran baru!

Rekan – rekan, setiap kali saya ada dalam perbincangan yang menggelisahkan dengan pelayan – pelayan Tuhan ini, dari dalam batin saya selalu menyembur satu frasa yang penuh api kebangunan rohani “Encounter with Jesus!” Itulah yang hilang. Itulah yang terlupakan. Sekolah – sekolah teologi manapun bahkan yang terbaik pun tidak mampu menjamin ini dalam kurikulum – kurikulum mereka.

The missing path adalah perjumpaan dengan Kristus, dan untuk menambal itu tiada lain yg bisa kita lakukan selain pemberitaan Injil, bukan ragam jenis aktivitas yang lain. Berita Injil yang adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan itu yang akan membawa orang kepada perjumpaan dengan Kristus (Rom 1:16). Mahasiswa adalah anak panah Kristus, dan mahasiswa harus mengalami Kristus. Mahasiswa harus bertemu sang pahlawan, supaya anak panah ini menjadi berarti. Kita akan lihat bagaimana hati mereka akan menyala – nyala untuk panggilan-Nya. Kita akan lihat sebuah kehidupan yang terjual habis bagi Kristus dan cinta akan Tuhan menghanguskan mereka. Masa ini adalah masa yang sangat menggairahkan untuk melihat mahasiswa mendengarkan Injil dan kampus – kampus melahirkan lagi dari dalam rahimnya hamba – hamba Tuhan yang militan untuk tujuan Kristus atas Indonesia dan suku – suku bangsa. Saya digairahkan melihat mereka – mereka yang baru saja dilawat Tuhan dan beberapa minggu kemudian sudah pergi ke kota – kota dan kampus – kampus yang baru untuk memberitakan kabar baik. Saya digairahkan melihat mereka pergi dengan uang mereka sendiri dan tidak kapok untuk berangkat lagi ke kota lainnya. Bangun pada tengah malam dan mencurahkan air mata untuk membela hidup anak – anak rohani mereka, membela suatu kampus atau bahkan suku bangsa, menginvestasikan waktu untuk mengajar, mendengar, melatih dan memuridkan, dan pada saat yang sama juga berjuang untuk memberi secara financial. Bukankah ini sebuah kebangunan rohani di tengah – tengah manusia yang oportunis? Betapa hidup bukan lagi untuk mengeruk dan mengeruk sesuatu bagi diri sendiri, tetapi untuk melayani Tuhan, memberkati mahasiswa dan Indonesia, memberi apapun yang Tuhan mau. Di balik pandangan yang kasat mata ini saya percaya, terhadap kawanan (kecil) ini (Luk12:32 Tuhan sedang tidak tertidur dan akan memunculkan kebenaran mereka seperti terang (Maz 37:6), kian bertambah terang hingga rembang tengah hari (Ams 4:18), melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buahnya (2 Kor 9:10). Apa yang terjadi ini di tengah egoisnya tahun – tahun postmodern ini bagi banyak gereja atau pelayanan adalah hal yang tidak mungkin. Bagaimana caranya? Kata kebanyakan gembala anak muda.

ExploSion Of Gospel
ExploSion Of Gospel

Pemberitaan Injil menjadi semakin penting dan mendesak! Zaman semakin kencang, generasi muda semakin cepat terhilang. Alkitab telah berkata tentang hari – hari terakhir yang makin kelam (2 Tim 3). Tapi Tuhan tidak pernah berubah. Dia tetap Tuhan yang telah melintasi segala zaman dan menghidupkan pencetak – pencetak sejarah. Dia akan menjumpai generasi ini. Itu mengapa kita di Sion tidak pernah mau dialihkan dan dihentikan untuk memberitakan Injil dan membawanya sampai ke kampus – kampus terjauh. Dari kampus, Injil akan sampai menerangi suku – suku bangsa dan sampai ke bangsa – bangsa.

Orang – orang muda tetap dan akan selalu menjadi anak – anak panahNya. Kita memiliki catatan sejarah bagaimana tahun – tahun modern telah diwarnai oleh pemuda – pemuda yang disemai Roh Kudus di kampus. Kita mengenal David Brainerd, Jonathan Edwards, William Carey, David Livingstone, The Cambridge Seven, Jim Eliot and his fellow Shell employees, dan lainnya. Mahasiswa senantiasa ada dalam penglihatan-Nya. Dia tidak pernah memikirkan opsi lain. Mahasiswa adalah anak – anak panah Kristus. Habakuk 3:2 mengatakan Tuhan akan menghidupkan pekerjaan-Nya dalam lintasan tahun. Bahwa setiap zaman, setiap generasi akan mendapatkan kebangunan rohaninya sendiri! Every generation will has its own revival! Karena itu kita di Sion seharusnya tidak terlena dan berleha – leha. Kita sedang tidak berlari beriringan dengan arus kontemporer, kita berlari bersama angin Roh Kudus. Kita tentara!

Sampai Indonesia penuh kemuliaan-Nya..

Advertisements
%d bloggers like this: