‘Pemborosan’ yang Disenangi Tuhan

media-20160516

Tidak semua hal dalam hidup ini bisa dibeli dengan uang. Kita kadang tertipu dengan mengukur segalanya berdasarkan uang. Bahkan kadang-kadang pemikiran yang salah ini kita bawa dalam melayani Tuhan.

Kita berpikir bahwa pelayanan pada-Nya bisa digantikan dengan besarnya uang yang kita berikan untuk persembahan. Kita berpikir bahwa bekerja dan mencari uang supaya bisa memberikan lebih banyak persembahan bisa menjadi alasan yang Tuhan terima saat kita ditanya mengapa kita tidak melayani Dia.

Lebih parahnya lagi kita bahkan kita berpikir bahwa uang bisa menggantikan ketaatan. Saya pernah berpikir demikian.

Setelah saya lulus kuliah, dalam saat teduh saya Tuhan menyampaikan arahan untuk saya tetap di Bandung selama 1 tahun untuk memuridkan mahasiswa-mahasiswa di Bandung. Tapi hati saya enggan. Yang saya tahu kalau saya kerja di Bandung jelas bahwa gajinya tidak akan sebesar kalau saya melemparkan diri ke Jakarta atau ke kota-kota lainnya. Dan saya mulai menolak arahan itu.

Karena ketaatan yang ditunda adalah sebuah ketidaktaatan.

Tiba-tiba ada suatu “arahan” dalam pikiran saya yang terdengar cukup “rohani”.

“Kamu kerja saja di perusahaan yang kamu mau, yang gajinya besar. Nanti dari situ kamu tabur uangmu saja yang banyak untuk pekerjaan pelayanan. Kan pelayanan juga butuh uang kan untuk operasional. Sama saja kok kamu melayani atau kamu menabur saja. Nanti kalau sudah beberapa tahun kerja, baru kamu resign dan saat itu kamu kan punya cukup uang kemanapun Tuhan suruh kamu.”

“Wew, bener juga,” pikir saya.

Lalu saya tiba-tiba sadar bahwa itu bukanlah ide Roh Kudus. Itu hanya akal-akalan iblis saja supaya saya tidak taat. Ia mencoba meyakinkan saya untuk menukarkan ketaatan saya dengan segepok uang untuk ditawarkan kepada Tuhan. Saya akhirnya langsung memutuskan untuk mengenyahkan pikiran itu dan memilih untuk taat. Saya stay di Bandung. Ya, saat itu juga. Kenapa? Karena ketaatan yang ditunda adalah sebuah ketidaktaatan.

Pikiran ini juga menyerang murid-murid. Mereka pikir Tuhan lebih disenangkan saat diberikan uang segepok untuk menunjang operasional pelayanan ‘Yesus dan 12 murid’.  Tapi perhatikan, Tuhan sama sekali tidak terkesan dengan ide murid-murid.

Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, datanglah seorang perempuan kepada-Nya membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang mahal. Minyak itu dicurahkannya ke atas kepala Yesus, yang sedang duduk makan.

Melihat itu murid-murid gusar dan berkata: “Untuk apa pemborosan ini? Sebab minyak itu dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin.”

Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: “Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu. Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku, ia membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.”

Matius 26:6-13

Pikiran murid-murid merefleksikan pikiran orang Kristen kebanyakan saat ini. Mereka menganggap bahwa wanita ini berlebihan melayani Tuhan. Terlalu fanatik. Terlalu radikal. Ngapain sih pemborosan seperti itu? Murid-murid dengan cepat menghitung dalam otaknya nilai pemborosan itu dan mulai berkata, “Ngapain sih kayak gitu? Padahal kalau dia jual itu, bisa untuk melayani orang-orang miskin.”

Atau bahasa modernnya kira-kira seperti ini.

“Ah kamu kan sudah lulus kuliah, kamu kerja keras saja nanti kamu bisa kasih persembahan yang banyak untuk pelayanan. Ga perlu lah memuridkan atau pelayanan lagi.”
“Ngapain sih sefanatik itu? Jadi orang Kristen yang ‘normal’ aja lah. Tuh liat kayak si itu tuh dia ga pelayanan, tapi bisa nyumbang besar untuk gereja.”

Namun Yesus sama sekali menolak pemikiran murid-murid itu. Yesus dengan jelas mengatakannya: ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku. Yesus disenangkan. Ia begitu terkesan dengan pemberian wanita ini. Ia terkesan dengan sikap wanita ini yang sungguh-sungguh ingin menyenangkan hati-Nya.

Saya yakin wanita ini tidak tiba-tiba punya pemikiran untuk mencurahkan minyak wangi yang merupakan upah setahun kerjanya ini kepada Yesus. Saya yakin Roh Kudus yang menaruhkan keinginan itu di hatinya. Mungkin waktu ide itu muncul, ia menolaknya. Takut dianggap aneh, takut dianggap bodoh oleh dunia.

Mungkin juga ia punya pemikiran sama seperti murid-murid, “Ah kan bisa saja aku jual lalu aku berikan ke bendahara pelayanan “Yesus dan 12 murid. Sama saja kan, toh untuk menunjang operasional pelayanan.”

Tapi apa yang dia lakukan pada akhirnya? Akhirnya dia memilih taat dan mendengarkan arahan Roh Kudus dalam hatinya. Dia melangkah dan mencurahkan minyak wangi itu yang melambangkan seluruh hidupnya kepada Yesus. Itulah ketaatan.

Perhatikan baik-baik, setiap kita memiliki arahan/panggilan tertentu yang spesifik dari Tuhan. Dalam konteks ini, wanita ini dipanggil oleh Roh Kudus untuk langsung mengurapi Yesus. Namun ada konteks lain di mana orang-orang dipanggil untuk melayani dengan kekayaan mereka. Tapi tujuannya semua untuk penggenapan pemberitaan Injil ke seluruh dunia (Matius 24:14).

Saat Tuhan meminta ketaatanmu untuk suatu hal tertentu, jangan berpikiran untuk memberikan aternatif pilihan lain kepada Tuhan. Dia tak akan berkenan.

Kalau Tuhan mau kamu jadi fulltimer, jangan ditawar menjadi mau bekerja di perusahaan sambil tetap melayani Tuhan. Kalau Tuhan mau kamu bekerja secara profesional sambil melayani Tuhan, jangan ditawar jadi fulltimer. Lakukanlah TEPAT seperti yang Ia mau.

Mungkin saat ini Tuhan memanggilmu untuk mulai meresikokan dirimu dan mulai melayani Dia. Lakukanlah. Memang akan ada “murid-murid” atau orang-orang Kristen di sekitarmu yang akan menganggap itu “pemborosan”. Mereka akan mulai menawarkan alternatif ‘aman’. Lupakan itu semua, dengarkan apa kata Roh Kudus. Minta peneguhan Firman Tuhan.

Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.
(1 Samuel 15:22)

Jangan mau digoyahkan dari panggilan Allah karena tawaran harta, popularitas, jabatan. Itu semua akan berlalu dan lenyap, tapi orang yang melakukan kehendak Tuhan akan hidup selama-lamanya.

Dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah hidup selama-lamanya. (1 Yohanes 2:17)

Ada satu lirik lagu yang saya dengar di radio dan sangat memberkati saya, judulnya Tahta di hatiku.

“Tak penting bagiku harta dunia, bila jiwa ini terhilang dan ku jauh dari-Mu
Karna bagiku Kaulah harta terindah
Apa artinya tahta dunia, bila jiwa ini terhilang dan Kau jauh dariku
Karna bagiku Kaulah tahta di hatiku”

Be a man God wants you to be. Be brave!

Corelya Erindah Aristia (Sion 2010)

Advertisements
%d bloggers like this: