JADI APAKAH KITA PERLU MENANGGAPI TUHAN DENGAN SERIUS?

Oleh : Ps. Parlin Sianipar (Gembala Sion Ministry)

Seorang hamba Tuhan pernah berkata: Tempat yang paling berbahaya adalah di tengah-tengah jalan.

Wahyu 3:16 pun menuliskan: Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.

Iblis paling senang apabila kita menjadi orang-orang medioker. Menjadi kambing yang pura-pura sebagai domba atau menjadi domba yang seumur hidup bertingkah laku sebagai kambing. Dia dengan pandainya berkata, “Tidak usahlah terlalu serius, cukuplah ke gereja, beri persembahan. Untuk apa PI, pemuridan, dan misi? Itu terlalu berlebihan. Tuh lihat teman-temanmu satu jurusan. Yang lain juga begitu kan? Kamu mau dianggap gila?”

Tapi Tuhan berkata, “Aku akan muntahkan engkau,” atau bahasa seriusnya, “Karena engkau mendua hati, maka Aku anggap engkau sebagai kambing.” TUHAN TIDAK KENAL GREY AREA. Apakah Tuhan, atau dunia ini? Pilih salah satu. Yang 50%-50% atau bahkan yang 99% ikut Tuhan dan 1% dunia, dianggap 100% dimuntahkan.

Jadi apakah kita perlu menanggapi Tuhan dengan serius?

Tentu saja serius! Mengapa?

  1. KARENA YESUS MATI DENGAN SERIUS BAGI KITA

Kematian dengan cara disalibkan adalah salah satu cara kematian yang paling mengerikan yang pernah didesain oleh manusia, karena tiga hal:

  • Kematian dengan rasa malu.

Pada masa pemerintahan Romawi, ada begitu banyak cara yang digunakan untuk mendatangkan kematian kepada orang lain. Mereka tahu bagaimana cara menghukum mati orang dengan biaya yang sangat murah. Ada orang yang dirajam, dibunuh dengan pedang, dibakar dengan api, dipukul sampai mati. Salib di lain sisi memerlukan empat tentara dan seorang perwira sebagai pengawas. Mereka perlu menyiapkan kayu salib dan tentara untuk menjaga orang yang tersalib memikul salibnya sampai ke luar kota, dimana dia harus mati. Biayanya mahal.

Jadi penyaliban dilakukan bukan hanya untuk mengeksekusi mati, tapi juga untuk mempermalukan orang tereksekusi dan menjadikannya contoh bagi bangsa yang dijajah mengenai upah pemberontakan terhadap Kerajaan Roma. Seorang yang disalib akan tergantung di udara, dalam keadaan sepenuhnya telanjang dan menjadi tontonan banyak orang.

Ini kematian yang tidak tanggung-tanggung. Ini kematian yang begitu serius. Berapa banyak dari kita yang rela mati dalam keadaan telanjang dan dipermalukan bagi orang lain? Kenapa Raja Segala Semesta memilih kayu salib sebagai wahana kematian-Nya? Harga yang Dia tanggung meliputi semua rasa malu yang harusnya kita tanggung karena dosa. Di kayu salib, Yesus seakan-akan hendak berkata, “Inilah semua yang rela Aku tanggung karena Aku mengasihimu. Aku benar-benar SERIUS mengasihimu.”

  • Kematian secara perlahan-lahan.

Salib diciptakan di Persia dan disempurnakan oleh Kerajaan Romawi sebagai metode yang memaksimalkan rasa sakit dalam periode waktu yang cukup panjang. Salib biasanya diperuntukkan hanya untuk budak dan penjahat yang paling keji. Ada hukum Romawi yang melarang penyaliban digunakan untuk mereka yang merupakan warga negara kerajaan.

Seseorang yang disalib akan mati secara perlahan-lahan. Sering sekali proses ini memakan waktu belasan jam sampai dengan 2-3 hari. Mereka yang disalibkan mati oleh karena efek tercekik yang disebabkan kondisi penyaliban. Tubuh yang disalib mengalami dua kesulitan: kesulitan dalam menopang tubuh dan kesulitan dalam bernafas akibat bagian dalam yang mengalami tekanan. Ketika seseorang yang disalib mengalami kesulitan bernafas, dia berusaha menaikkan posisi tubuhnya yang melorot akibat gaya gravitasi dengan kakinya yang terpaku. Tapi tidak lama, kaki yang terpaku itu akan begitu sakit, sampai tubuhnya akan melorot lagi dan seluruh beban tubuhnya berpindah ke tangan yang terentang. Posisi tubuh seperti ini akan mencekik paru-parunya dan dia berhenti bernafas. Maka berulang kali dia akan berpindah dari posisi satu ke yang lain, sampai dia terlalu lelah, dan kemudian mati tercekik atau mengalami kegagalan jantung.

  • Kematian yang begitu menyakitkan.

Kematian di kayu salib begitu menyakitkan. Kata “excruating”yang bermakna penderitaan atau sakit yang begitu mengerikan datang dari bahasa Latin : ex dan cruciate, yang berarti karena salib. Sebelumnya, Yesus juga mengalami hemohidrosi dimana kapiler pembuluh darahnya pecah dalam doa di Gethsemane, Dia harus berjalan 2,5 mil ketika Dia diadili, tidak tidur semalaman, melalui 6 kali pengadilan, dipukuli, dihajar dan diejek sepanjang malam, kemudian Dia dicambuk 39 kali menggunakan flagrum, suatu cambuk yang ditempeli tulang dan besi yang tajam (sering sekali banyak yang mati dalam proses pencambukan ini). Kemudian kepala-Nya dimahkotai duri sepanjang 1-2 inci dan prajurit Romawi terus-menerus memukuli-Nya di kepala yang menyebabkan pendarahan yang hebat lewat kepala. Di dalam perjalanan-Nya ke Golgota, Dia terus-menerus dipukuli sampai wajah-Nya begitu rusak. Melalui via Dolorosa, sepanjang 650 yard, Yesus perlu mengangkat salib-Nya dengan berat 40-55 kg ke atas bukit.

Dalam penyaliban-Nya, prajurit Romawi menggunakan paku sepanjang 5-7 inchi dan menyebabkan rasa sakit yang tidak bisa diredakan oleh morfin sekalipun. Dan selama 18 jam penderitaan ini, Yesus tetap bisa melepaskan diri dari semuanya ini. Kita harus mengingat bahwa Dia menolak pembelaan dari Herodes dan Pilatus, Dia tidak mendatangkan 12 pasukan malaikat untuk membela-Nya, Dia menolak anggur yang menghilangkan kesadaran-Nya, dan Dia mati karena jantung yang pecah (“a broken heart”). Di dalam keTuhanan-Nya, Yesus memilih sendiri untuk menyerahkan nyawa-Nya.

Yesus tidak setengah-setengah dalam kematian-Nya. Kematian-Nya adalah kematian yang begitu serius, menepati seluruh nubuatan Nabi mengenai Mesias yang menderita. Apakah menurutmu kematian-Nya adalah kematian yang paling serius yang pernah ada? Sebesar itulah besar cinta-Nya kepadamu. Kalau begitu apa yang engkau lakukan karena cintamu kepada-Nya? Apakah cintamu benar-benar cinta yang serius?

  1. KARENA YESUS MENGALAHKAN MAUT DENGAN SERIUS UNTUK KITA

Apa jadinya kalau kebangkitan-Nya adalah suatu candaan? Alkitab berkata :

1 Korintus 15:17-19

Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, makasia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.

Apabila kebangkitan Kristus adalah candaan, maka kita adalah yang paling malang dari segala manusia. Tanpa kebangkitan Kristus, maka semua manusia akan binasa. Tidak ada pengharapan, semua yang kita percaya adalah sia-sia.

Kebangkitan-Nya adalah kebangkitan yang serius. Apakah kita mau benar-benar serius mempercayai ini, bahwa Dia sudah menang atas dosa dan maut? Apakah kita mau mati terhadap manusia lama kita secara serius, supaya kita menikmati kuasa dalam kebangkitan-Nya?

  1. KARENA DIA AKAN BENAR-BENAR SERIUS MEMERINTAH UNTUK SELAMA-LAMANYA

Penghakiman-Nya akan menjadi penghakiman yang benar-benar serius. Setiap orang suka atau tidak suka, suatu saat akan menghadapi penghakiman ini. Mereka yang benar-benar serius akan perkataan-Nya dihitung sebagai domba dan mereka yang tidak serius akan dihitung sebagai kambing.

Kita hanya punya satu kesempatan menjalani hidup. Setelah itu kita harus mempertanggung-jawabkan bagaimana cara kita menjalani kehidupan di bumi ini. Di depan tahta penghakiman, tidak ada lagi yang akan berkata, “Maaf, Tuhan, aku tidak serius kok akan segala dosa-dosaku, mohon ujian ulangan.”

Sebelum saat itu tiba, kita perlu memastikan bahwa kita benar-benar serius menjalani panggilan Tuhan selama kita di bumi ini.

 

Advertisements

About the post

Teaching

%d bloggers like this: